Bekasi, 14 Maret 2026 — Suasana siang di Felicia Angel Kids terasa berbeda dari biasanya. Anak-anak duduk dalam kelompok kecil dengan ekspresi beragam. Ada yang terlihat antusias berbicara dengan teman di sebelahnya, ada pula yang tampak diam sambil memikirkan kata-kata yang ingin mereka sampaikan. Hari itu, mereka mengikuti sesi pembelajaran tentang storytelling—bukan sekadar belajar berbicara, tetapi belajar menyampaikan diri dengan lebih percaya diri.
Pertemuan pertama dibuka dengan pengenalan dasar storytelling. Anak-anak diajak memahami bahwa sebuah cerita memiliki alur sederhana: pembukaan, isi, dan penutup. Dengan pendekatan yang ringan dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, mereka mulai mencoba menyusun cerita tentang diri mereka sendiri.
Topik yang dibagikan pun sederhana namun bermakna—mulai dari cita-cita, pengalaman yang paling berkesan, hingga hal-hal yang ingin mereka perbaiki dalam diri mereka sendiri.
“Yang penting berani dulu. Soal bagus atau belum, itu nanti,” ujar salah satu fasilitator kepada peserta.
Pendekatan ini membantu anak-anak memahami bahwa proses belajar tidak selalu harus sempurna sejak awal. Keberanian untuk mencoba menjadi langkah pertama yang paling penting.
Ketika sesi mulai masuk pada pembahasan mengenai moto hidup, mulai terlihat bagaimana setiap anak memiliki proses yang berbeda dalam memahami dirinya sendiri. Ada peserta yang sudah mampu menjelaskan prinsip hidupnya dengan cukup yakin, namun ada juga yang masih merasa bingung.
“Aku belum tahu moto hidupku apa,” kata salah satu peserta dengan suara pelan.
Alih-alih langsung diarahkan pada jawaban tertentu, fasilitator justru menjadikan momen tersebut sebagai ruang refleksi. Anak-anak didorong untuk mulai mengenali apa yang mereka sukai, apa yang mereka impikan, dan bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan latihan dalam kelompok kecil. Perlahan, suasana mulai mencair. Anak-anak mulai saling bertukar cerita, memberi masukan sederhana, hingga saling menyemangati satu sama lain.
Meski belum semua peserta mampu berbicara dengan lancar, setidaknya mereka mulai memiliki gambaran mengenai apa yang ingin mereka sampaikan ketika berdiri di depan banyak orang.
Latihan sederhana ini menjadi ruang aman bagi mereka untuk mencoba tanpa takut salah.
Setelah sesi latihan selesai, satu per satu peserta diminta maju ke depan untuk menyampaikan cerita mereka. Waktu yang diberikan sekitar lima menit untuk setiap anak.
Peserta pertama, sebut saja P, melangkah maju dengan ragu. Ia mulai berbicara perlahan, namun beberapa kali berhenti cukup lama di tengah cerita. Jeda-jeda tersebut membuat alur ceritanya terputus dan suasana ruangan sempat menjadi hening.
Karena merasa kesulitan melanjutkan cerita, P akhirnya memilih mengakhiri penampilannya sebelum waktu yang diberikan selesai.
Meskipun tampak kecewa dengan dirinya sendiri, fasilitator tetap memberikan dukungan dengan pendekatan yang tenang dan tidak menghakimi.
“Yang penting kamu sudah berani maju,” ujar fasilitator sambil memberi semangat.
P memang tidak banyak merespons, tetapi ia tetap mengikuti sesi hingga selesai dan perlahan kembali terlibat bersama kelompoknya.
Peserta-peserta berikutnya mulai menunjukkan karakter dan cara bercerita yang berbeda-beda. Ada yang tampil cukup percaya diri dengan alur cerita yang mengalir meski masih sederhana.
“Aku mau jadi guru,” kata salah satu anak dengan suara yang lebih mantap dibanding peserta sebelumnya.
Namun, ada pula yang masih berhenti di tengah cerita, mengulang kalimat yang sama, atau terlihat belum nyaman dari bahasa tubuhnya. Beberapa peserta tampak terus menggerakkan tangan, menunduk, atau belum mampu menjaga kontak mata dengan audiens.
Meski demikian, setiap anak tetap diberi ruang untuk berkembang sesuai prosesnya masing-masing.
Pertemuan pertama ini mungkin belum menghasilkan penampilan yang sempurna. Namun, di balik setiap rasa gugup dan jeda yang muncul, ada proses penting yang sedang tumbuh: keberanian untuk mencoba.
Melalui storytelling, anak-anak tidak hanya belajar berbicara di depan umum, tetapi juga belajar memahami diri sendiri, menyusun pikiran, dan menyampaikan perasaan dengan lebih baik.
“Gugup itu wajar. Nanti juga terbiasa,” kata fasilitator menutup sesi hari itu.
Kegiatan ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari proses pengembangan diri anak-anak. Harapannya, mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, mampu menyampaikan gagasan dengan baik, dan berani menunjukkan siapa diri mereka sebenarnya.